Judul Buku : Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban)
Jenis Buku : Makalah/ Ceramah, 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki-Jakarta
Penulis : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tebal : viii+140hlm
Cetakan : III, Mei 2012
Manusia Indonesia merupakan naskah ceramah Mochtar Lubis di TIM (Taman Ismail Marzuki) pada tanggal 6 April 1977. Kemudian, ceramah itu disusun menjadi sebuah buku. Buku ini disertai dengan tanggapan dari beberapa tokoh yang dimuat di media massa. Misalnya Sarlito Wirawan Sarwono, Margono Djojohadikusumo dan Wildan Yatim. Kemudian Mochtar Lubis juga menjawab beberapa tanggapan itu dengan tanggapan terhadap tanggapan tersebut.
Isi buku ini adalah tentang kritik terhadap sikap dan karakter bangsa Indonesia melalui sudut pandang subjektif beliau. Didalam bukunya Mochtar Lubis menjelaskan 6 ciri Manusia Indonesia. Didalam buku ini Mochtar lubis terkesan seolah-olah dia menjelekan bangsanya sendiri namun tentunya bukan itu tujuanya. Buku ini bisa dikatakan sebagai bentuk kritik terhadap bangsa indonesia yang hendak berkembang. Buku ini cukup bagus dibaca oleh siapapun yang merasa bagian dari Manusia Indonesia, soal setuju atau tidak dengan Pak Mochtar Lubis, terserah pembaca.
Pidato Mochtar Lubis dibagi menjadi 10 bab. Bab I Manusia Indonesia berisi gambaran tentang manusia Indonesia yang selama ini dipersepsikan oleh orang asing atau bangsa Indonesia sendiri, baik itu persepsi yang buruk maupun yang baik. Persepsi ini muncul melalui data-data sejarah dan terpelihara lewat sastra daerah dan tradisi yang dianut oleh berbagai suku bangsa di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah mistisisme, sifat yang artistik, kurang mampu berpikir hal yang sulit-sulit, serta dorongan seks yang besar.
Bab II sampai dengan bab VII berjudul Ciri Kesatu sampai Ciri Keenam yaitu menjelaskan tentang keenam sifat manusia Indonesia. Keenam sifat manusia Indonesia sebagai berikut: munafik tau hipokrit, enggan bertanggung jawab, bersikap feodal, percaya takhyul, artistik, dan kurang kuat mempertahankan keyakinan. Dari keenam sifat tersebut, hanya dapat ditemukan satu sifat yang baik, yaitu artistik. Kesannya memang kelima bab yang lain dituliskan untuk mengkritik bangsa Indonesia yang saat Mochtar Lubis menyampaikan pidato ini sedang hidup dalam kebohongan karena korupsi dan perilaku ABS (Asal Bapak Senang) bisa ditemukan di hampir semua bidang dan lapisan masyarakat. Tidak ada lagi karakter-karakter mulia yang dahulu bisa ditemukan di zaman perjuangan di mana bangsa Indonesia mampu bersatu dan rela berkorban mengusir penjajah.
Bab VIII Ciri Lainnya, hanya berisi ciri-ciri manusia Indonesia yang belum disebutkan di bab sebelumnya. Sebagian besar isinya masih ciri-ciri yang negatif seperti tidak suka bekerja keras, gampang cemburu dan dengki, malas, dan tukang tiru. Di samping sifat-sifat yang jelek itu, bangsa Indonesia juga punya sifat baik seperti berhati lembut, suka damai, dan rasa humor yang membuatnya dapat tertawa saat sulit dan menderita. Di akhir bab, Mochtar Lubis menyebutkan perlunya penguasaan ilmu dan teknologi. Namun, karena keduanya membawa kekuasaan yang tak pernah netral, manusia Indonesia harus hati-hati dalam menggunakannya.
Di bab IX yang diberi judul Dunia Kini, Mochtar Lubis membahas hubungan antara ekonomi, sumber daya alam, dan teknologi terhadap kesejahteraan sebuah bangsa. Ada beberapa kasus yang disajikan untuk memberikan gambaran tentang bagaimana pengelolaan ketiganya terhadap kesejahteraan atau keterpurukan sebuah bangsa. Yang paling utama adalah bagaimana banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, sekarang masih sangat tergantung pada negara-negara besar dalam hal teknologi, pengelolaan SDA, dan sistem ekonomi sehingga sangat mudah diatur dan dimanfaatkan. Ia menekankan betapa pentingnya untuk menjadi mandiri dengan cara memaksimalkan kemampuan bangsa Indonesia karena senyatanya kita tidak bisa benar-benar lepas dari sistem dan jaringan ekonomi internasional. Bagian terakhir, yaitu kesimpulan, berisi berbagai saran Pak Mochtar untuk berbagai bidang penghidupan mulai dari kesenian sampai sikap keseharian.
Beberapa tanggapan yang disajikan dalam buku ini dirangkum dalam sebuah bab berjudul “Tanggapan-tanggapan Tanggapan atas Tanggapan”. Tanggapan tersebut datang antara lain dari Sarlito Wirawan Sarwono (psikolog UI), Margono Djojohadikusumo (ayah Prof. Soemitro Djohohadikusumo, kakek Prabowo), Wildan Yatim, dan Dr. Abu Hanifah. Sarlito mengkritisi ciri-ciri manusia Indonesia yang disebukan Mochtar Lubis melalui pendekatan psikologis. Margono mengkritisi sifat feodal manusia Indonesia yang dikritik habis-habisan oleh Mochtar seolah tidak ada sisi positifnya. Wildan Yatim mengatakan bahwa ciri-ciri manusia Indonesia yang terkesan buruk itu penyebabnya adalah politik praktis sehingga lembaga perwakilan rakyat harus benar-benar membawa suara rakyat. Sedangkan Dr. Abu Hanifah dalam tanggapannya atas tulisan Mochtar Lubis menyinggung banyak aspek yang harus ditelaah, seperti bapakisme sampai kurangnya teknorat di Indonesia.
Pada beberapa tanggapan ada yang menyatakan Mochtar Lubis hanya berpikir Subjektif karena tidak ada data ilmiah. Ada pula yang mengatakan sifat-sifat tersebut merupakan sifat-sifat hakiki yang dimiliki seluruh insan manusia di dunia. Selain, itu ada pula yang menyatakan ciri tersebut hanyalah ciri-ciri sementara yang dapat atau akan berubah.
Bagaimana pun juga terlepas dari benar atau salah apa yang dikemukakan Mochtar Lubis, paling tidak dapat menjadi referensi. Jika ciri-ciri negatif tersebut memang ada dan dapat mengganggu atau menghambat pembangunan dan pertumbuhan negara, maka harus cepat diminimalisir bahkan disingkirkan. Karena inti dari suatu negara bukanlah sistem, namun pembuat dan pelaksana sistemlah yang merupakan poin penting. Semua manusia di dalamnya, manusia
Pada beberapa tanggapan ada yang menyatakan Mochtar Lubis hanya berpikir Subjektif karena tidak ada data ilmiah. Ada pula yang mengatakan sifat-sifat tersebut merupakan sifat-sifat hakiki yang dimiliki seluruh insan manusia di dunia. Selain, itu ada pula yang menyatakan ciri tersebut hanyalah ciri-ciri sementara yang dapat atau akan berubah.
Bagaimana pun juga terlepas dari benar atau salah apa yang dikemukakan Mochtar Lubis, paling tidak dapat menjadi referensi. Jika ciri-ciri negatif tersebut memang ada dan dapat mengganggu atau menghambat pembangunan dan pertumbuhan negara, maka harus cepat diminimalisir bahkan disingkirkan. Karena inti dari suatu negara bukanlah sistem, namun pembuat dan pelaksana sistemlah yang merupakan poin penting. Semua manusia di dalamnya, manusia
Buku ini sangat bagus untuk dibaca. Didalamnya berisi kritikan-kritikan yang apabila kita sebagai pembaca bisa menerimanya dengan pikiran terbuka maka akan dapat memotivasi kita. serta dapat memajukan keadaan bangsa Indonesia saat ini.
Comments
Post a Comment